Cerita Dari Seorang Teman (4)

Apa Jadinya Tanpa Dia

Ibuku bekerja membantu Bapa untuk menambah penghasilan. Beliau berjualan di Pasar Tradisional setiap hari diharuskan bangun subuh. Ibuku mempunyai anak aku, ia bercerita bahwa aku dulu sering nangis, apabila ada maunya tidak bisa dilarang harus terlaksana. Pernah Bapa direpotkan oleh ulah ku saat kecil. Ia berkeliling dengan aku jalan kaki pukul 12 malam hanya untuk mencari Pisang karena aku menangis ingin Pisang. Betapa merepotkannya kita dulu tanpa ada rasa bersalah dulu sampai sekarang, dari anak-anak sampai dewasa, selalu berbuat yang sama “merepotkannya”. Apa memang tergariskan demikian.
Masak, bekerja, bangun subuh adalah rutinitas sehari-hari namun demikian ia tidak lupa menjaga dan merawat serta memperhatikan aku. Sering bangun tengah malam hanya untuk membuatkan susu atau hanya untuk mengganti popok agar kulit tidak iritasi/gatal-gatal atau meninabobokan aku karena nangis terus biar aku bisa tidur nyenyak dan cepat bisa istirahat. Tanpa terpaksa beliau begitu baik. Apa jadinya jika saat itu aku diabaikan beliau, tidak bisa dibayangkan betapa menderitanya aku. Aku berpikir :

Apa jadinya aku apabila ;
Susu tidak dibuatkan
Popok tidak diganti
Tidak dimandikan
Tidak dihangatkan dengan kayu putih
Gatal tidak digarukan
Buang Kotoran tidak dibersihkan
Makan tidak disuapin
Menangis tidak ditenangkan
Sakit tidak dibawa ke doctor
Mati…….
Bisa mati

Apa yang kau kenang dari dia? Tidak ada? Pasti ada. Jauh di lubuk hatimu Ibu adalah segalanya, akui itu, cintailah, sayangilah walau tidak sesempurna beliau.

Tinoess

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: