Cerita Dari Seorang Teman (2)

Suatu hari saya mengeluh mengenai hidup. Diruang ukuran 3 x 4 m2 saya berbincang dengan beliau, ruang tersebut adalah ruang yang dipakai kantor untuk Koperasi Perusahaan. Awal dari pembicaraan adalah bisa atau tidak Koperasi mengeluarkan pinjaman untuk saya. Waktu itu aku berkata demikian : “ Mas, aku selalu bawa uang sejumlah 750.000,- kemanapun saya pergi, saya ingin menabungkannya ke Koperasi tapi ijinkan aku mendapat pinjaman dan mencicilnya agar nantinya saya masih dapat membawa uang sebagai persiapan kalau ada sesuatu masalah dengan tetap masih bisa menabung”. “Persiapan?” kata temanku. “Uang persiapan untuk apa? “ ia meneruskan pertanyaan. Lalu dengan cepat saya menjawab : “Persiapan apabila sewaktu-waktu saya butuh, persiapan apabila sewaktu-waktu ada barang yang perlu dibeli, persiapan sewaktu-waktu ada masalah yang mendadak di jalan atau dimanapun”. Dengan senyum khasnya lalu dia menyambung pembicaraan “Sebesar itu kau bawa-bawa dan kau abaikan resiko untuk hal-hal yang belum terjadi, bagus anda waspada dari awal”. Setelah terdiam sejenak lalu ia meneruskan :”Tabungkan kan saja uangnya apabila ada perlu anda bisa mengambilnya sewaktu-waktu dengan mengajukan pinjaman, itu lebih aman, anda tidak perlu menakuti apa yang akan terjadi selama anda percaya dan memiliki harapan yang terbaik kepada yang Maha ia tidak akan mebiarkanmu menderita, tidak perlu takut anda berkekurangan bawalah perbekalan semampu dan sisihkan yang lainnya ditempat aman jika anda perlu dan hal buruk terjadi semua sudah siap”. “hmmm begitu yah”. Sahutku.
“Anda mempersiapkan hal-hal seperti ini dengan ketakutan akan terjadi sesuatu yang luar biasa dan anda membawa perbekalan uang kas untuk mengatasinya, tapi pernakah kau berpikir mempersiapkan segala sesuatu sebelum ajalmu tiba? Saya terdiam tak lama ia bicara kembali : “Seandainya Tuhan ambil nyawamu seketika saat ini disini sudakah anda mempersiapkan diri untuk menghadapinya? Apa gunanya yang kau lakukan sekarang mempersiapkan untuk hal yang tidak terlalu penting karena ada yang lebih penting”. Sambil tersenyum menepuk pundaku ia berkata : “ Sudah tabungkan uangnya, bawa secukupnya persiapkan segala sesuatu hanya untuk hal yang jauh lebih penting untuk anda siapkan”. Dengan terbata-bata saya menyahut : “Terimakasih pa sudah mengingatkan”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: