Menunggu apa yang dicita-citakan

Seorang Bapak bercerita kepada anaknya demikian: “ Aku pernah bermimpi dan kujadikan cita-cita bahwa suatu hari usahaku yang kubangun dari bawah memiliki beberapa cabang dan semuanya berjalan dengan baik dan lancar”. Semua masih proses belum menjadi hasil entah berapa lama lagi aku harus menunggu, tapi itulah hidup, aku sudah beberapa kali merasakannya, bahwa semuanya butuh kesabaran untuk menunggu”.
Mendengar cerita itu sang anak tertarik dan mulai bertanya : “ Lalu sampai kapan harus menunggu untuk menjadi hasil”. Sang Ayah lalu berkata : “ Seberapa idealkah hasil yang ingin kamu capai dari apa yang kamu cita-citakan itu? Semakin tinggi standar yang ingin kamu capai semakin butuh waktu karena imajinasimu terus berkembang dan proses terus menyesuaikan”. Dengan cepat sang anak bertanya kembali : “Mengapa bisa begitu?” “Begini” sang Ayah meneruskan pembicaraan “Untuk satu cabang dengan barang seadanya saya bisa membuatnya namun cabang yang ingin saya bentuk tidak cukup dengan keadaan tersebut, masih kurang karena tidak sesuai dengan apa yang saya inginkan”. Sang anak semakin menikmati obrolan tersebut, semangat mudanya memacu untuk terus bertanya “Kesempatan ada tapi tidak diambil bukankah itu menyia-nyiakan kesempatan? Sang ayah lalu menjawab “Berapa waktu yang akan kau habiskan untuk memperbaiki apa yang kamu bangun tetapi tidak kamu sukai, berapa biaya yang kamu akan habiskan untuk itu? Disini saya tidak membuang kesempatan dan tidak menyia-nyiakan apa yang saya dapatkan, karena tanpa membuka cabangpun saya telah bahagia. Impian membuka banyak cabang ini adalah perwujudan dari impian tertinggi, ketika yang tertinggi belum tercapai dan ditengah kita sudah bahagia nikmatilah, itulah saya sekarang disini saat ini”.
“Ketika cabang Usaha yang ingin diwujudkan sesuai dengan impian idea,l tidak akan ada penyesalan nantinya, tidak ada waktu yang terbuang, biaya yang terbuang, semua tepat pada tempatnya. Bukan menyia-nyiakan kesempatan tetapi berusaha menempatkan semuanya pada tempatnya yang tepat. Berapa waktu lagi? Mungkin kamu akan bertanya demikian kata sang ayah kepada anaknya, sang anak terdiam, lalu sang ayah meneruskan: “ Semuanya tergantung seberapa kebulatan tekadmu, mau teruskan atau menurunkan standar yang telah kau bangun dari apa yang telak kamu cita-citakan. Jangan nilai keberhasilan dari apa yang akan kamu wujudkan tetapi dari apa yang telah kamu jalani sampai detik ini”. “Apa yang ingin kamu wujudkan selanjutnya adalah buah sukses dari apa yang telah kamu lakukan sebelumnya, buatlah sesuai keinginan sempurnamu, karena itu pasti terwujud”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: