Meditasi : Fokus Gapai Impian

Cara-cara atau tahapan-tahapan latihan meditasi ketenangan batin, analytical meditation dan penggabungan keduanya.

I. PERSIAPAN

1). Sebelum melakukan latihan meditasi pastikan kondisi tubuh tidak terlalu lelah.

2). Berada di ruangan yg cukup kondusif, dalam arti sirkulasi udara cukup baik dan cukup tenang dan nyaman.

3). Mengenakan pakaian yg nyaman dan cukup longgar, terutama perhatikan pada bagian pinggang/perut, agar tidak menghambat pernapasan, sirkulasi jalan darah & energi.

4). a). Menyediakan matras/bantalan meditasi (jika latihan meditasi dilakukan dlm posisi duduk bersila), utk meninggikan (hanya) dudukan/bokong kita saja.
b). Utk betis dan mata kaki posisinya berada lebih rendah dari bokong kita, dan tidak dalam posisi sejajar dgn bokong.
c). Ketinggian matras dari alas/lantai kira2 10cm.
d). Utk betis dan mata kaki yg menyentuh lantai agar diberi alas tipis agar pertemuan dgn permukaan lantai yg keras dan mungkin dingin tdk menyebabkannya sakit/terganggu. (Matras meditasi sekarang sudah banyak dijual, baik via internet maupun di toko2 tertentu, teman kita Ibu Winda termasuk yg menjual matras meditasi ini).
e). Upayakan utk mendapatkan alas meditasi yg komposisi ketebalan/ketinggia nnya dari lantai = 12cm (bokong) dan 2cm (betis & mata kaki), serta berkwalitas busa yg cukup baik, tidak melesak. Bagaimana jika tdk memiliki matras meditasi? menggabungkan beberapa bantalan hingga mencapai ketinggian kira2 10cm dari alas/lantai mungkin bisa ditempuh utk sementara waktu, dgn tetap mengalas betis dan mata kaki dgn kain sprei yg dilipat atau alas lain yg cukup lembut.
f). Satu hal yg perlu kita catat adalah alas bokong yg terlalu rendah (bokong sejajar dgn betis dan mata kaki) menyebabkan pinggang dan punggung menjadi lelah bahkan membungkuk, kemudian alas bokong yg terlalu tinggi menyebabkan pinggang menjadi tegang dan tangan yg menggelantung.

II. POSTUR

5). Duduk bersila dgn posisi kaki (jika memungkinkan) kedua telapak kaki berada di atas kedua paha secara kebalikan (kaki kanan berada di atas paha kiri dan sebaliknya), posisi ini sering disebut dgn posisi full lotus/teratai penuh atau posisi vajra. Namun posisi half lotus pun dapat dilakukan, yaitu salah satu kaki berada di atas salah satu paha (contoh: kaki kanan berada di atas paha kiri saja atau sebaliknya).

6). Mata setengah terpejam dgn patokan turunnya kelopak mata kira2 dua kepalan dari ujung hidung dgn fokus pada kepalan terjauh/kedua dari ujung hidung, pada benjolan kepalan jari kelingking (saat kita mengukur fokus mata dapat menjadi juling, tetapi setelah 2 kepalan yg menjadi patokan dilepaskan, fokus mata menjadi normal dan setengah terpejam dgn penurunan kelopak mata yg cukup ideal) —> catatan : mata setengah terpejam adalah kondisi ideal dalam standar latihan meditasi, dgn maksud : jika mata terbuka, kecenderungan praktisi utk terganggu dgn “dunia luar” sangat besar, seperti situasi ruangan, orang lalu lalang dsb; jika mata tertutup, kecenderungan utk mengantuk dan tertidur sangat besar. Tetapi jika kondisi mata setengah terpejam ini masih agak sulit, memejamkan mata masih dapat ditolerir dgn catatan tdk sampai tertidur (fisik yg prima dan penggunaan script dpt dilakukan utk menghindari tertidurnya praktisi).

7). Ujung lidah berada di belakang gigi atas dan menempel pada langit2 mulut. Ini sangat membantu mencegah produksi saliva/air liur yg berlebihan namun juga mencegah rongga mulut menjadi kering. Saliva yg terkumpul pada akhir latihan meditasi agar ditelan dan tidak dibuang.

8). Dagu agak ditarik ke arah tenggorokan (namun hindari terlalu ekstrim). Dengan menarik dagu, pandangan mata menjadi mengarah ke bawah dan ini membantu praktisi yg menggunakan cara mata setengah terpejam. Kemudian juga membuat punggung menjadi bertambah lurus dan menghindari pundak yg membungkuk.

9). Bahu/pundak dalam posisi yg kendur/rileks dan seimbang.

10). Punggung/bagian belakang tubuh berada dalam posisi yg lurus namun tetap rileks.

11). Tangan berada di samping tubuh dgn rileks dan berada satu garis dgn telinga, bahu dan pinggang dgn telapak tangan kanan berada di atas telapak tangan kiri menghadap ke atas, kedua ujung ibu jari bersentuhan dan diletakkan di pangkuan di depan perut bawah (kira2 1 inch di bawah pusar, dalam bahasa Mandarin disebut di posisi Tan Tien). Letakkan dgn rileks dan alami. (Posisi tangan ini dapat beragam/bervariasi tergantung dari tradisi dan guru pengajarnya, masing2 memiliki maksud dan tujuannya, disesuaikan dgn situasi dan kondisi praktisi dan lingkungan).

(Ketujuh postur di atas, sering disebut dgn 7 kunci Vairochana atau 7 titik posisi Vairochana, walaupun ada juga tradisi yg menambahkannya menjadi 8 (tambah 1 pd poin pernapasan), seperti pd poin berikut ini).

12). Pernapasan. Bernapas secara alami dan wajar. Saat menghirup udara rasakan udara menyentuh ujung hidung masuk ke pori2 hidung dan lubang hidung utk kemudian menuju tenggorokan, dada, ulu hati, perut hingga perut bawah dan upayakan hingga sebawah mungkin. Ketika menghembuskan udara, keluarkan udara melalui jalur yg sama. Saat menghirup udara, perut mengembung, dan ketika menghembuskan udara perut mengempis. (Pernapasan jenis ini dikenal juga sebagai pernapasan perut, pada awalnya jika blm pernah atau blm terbiasa, praktisi mungkin dapat mengalami kesulitan, karena masih terbiasa dgn pernapasan dada, bisa saja terjadi sesak napas, karena timbul kebingungan kapan harus mengembungkan perut dan mengempiskan perut, tetapi ini wajar, lakukan saja semampunya, hindari memaksakan diri). Terdapat juga teknik penyaluran napas ke bagian2 tubuh yg lain, bersirkulasi dsb, ini merupakan pengembangan lagi dari teknik pernapasan di atas.

III. TOOLS

# Pembayangan/ Mengumpamakan #
13). Berkenaan dgn postur tubuh, membayangkan/ visualisasi/ menganggap/ mengumpamakan diri sebagai boneka tali/gantung atau ada suatu tali di atas ubun2 kita yg membuat tubuh kita menggantung, dapat membuat tubuh kita menjadi lurus dari kepala hingga ke tulang ekor. Dapat membuat bahu menjadi rileks.

# Scripts #
14). Menggunakan script (yg dibarengi dgn NIAT) :
a). “Saya meniatkan dari ujung ubun2 hingga tulang ekor saya, berada dalam satu garis lurus”. (script ini dapat membuat tubuh/punggung lurus, namun resiko tubuh kurang rileks/kaku/ tegang masih bisa terjadi, utk itu seal kedua dapat dilakukan pada script berikut).
b). “Seiring dengan hembusan napas saya, tubuh saya semakin rileks, namun punggung saya tetap lurus”. (mengapa seiring dengan hembusan napas dan bukan tarikan napas? karena jika kita menarik napas, tubuh akan menggelembung dan menyebabkan peregangan pada bagian2 tubuh hingga membuat tubuh dapat menjadi lebih menegang/mengeras, sebaliknya jika menghembuskan napas tubuh menjadi mengempis dan membuat bagian2 tubuh menjadi melemas/rileks. Tetapi dgn melemasnya tubuh setelah menghembuskan napas dapat berpotensi tubuh menjadi membungkuk, karenanya kita menambahkan script “…namun punggung tetap lurus” agar punggung tidak terpengaruh akibat rileks/melemasnya bagian tubuh).
Catatan: menjaga punggung tetap lurus menjadi suatu hal yg sangat penting dalam setiap latihan meditasi, utk membuat sirkulasi energi lancar, dgn lancarnya sirkulasi energi membuat pencerapan (absorption) pikiran pada obyek yg dipilih menjadi semakin baik.
c). “Suara2 apapun yg saya dengar hanya akan membuat pikiran saya semakin tercerap dalam obyek meditasi saya yaitu napas saya”. (kata2 yg menunjukkan obyek meditasi dalam script ini – napas saya – dapat diubah disesuaikan dgn obyek meditasi yg digunakan).

Catatan khusus tentang “Pencerapan (absorption) ” secara umum:
Pencerapan dalam konteks umum, yg saya pahami dari pengalaman dan literatur kira2 sebagai berikut: saat seorang praktisi memilih suatu obyek meditasi, maka saya cenderung utk mengatakan bahwa praktisi tercerap dalam obyek meditasi yg digunakannya daripada disebut memperhatikan/ fokus pada obyek meditasinya. Karena penyebutan fokus dapat menimbulkan pengertian ‘sesuatu’ yg mengamati ‘sesuatu’ tanpa terlibat di dalamnya menurut pemahaman saya, sedangkan pencerapan memiliki arti lebih dari itu, tidak sekedar mengamati, tetapi pikiran berdiam dalam obyek tsb dan merasakan obyek tsb. Memang pernyataan2 di atas dapat menimbulkan pertanyaan2, tetapi hal ini harus dialami sendiri agar mendapatkan sedikitnya sense akan hal ini. Ada suatu contoh sederhana (tetapi contoh ini tidak mewakili apa yg saya maksudkan di atas, ini hanya utk memudahkan/memberik an analogi dalam memahami apa yg termaksud di atas), kita semua mungkin pernah melihat foto/gambar 3 dimensi dalam suatu bingkai, jika kita blm pernah tahu tentang apa itu gambar 3 dimensi, kita mungkin hanya melihat/mengamatiny a saja, tanpa tahu apa itu gambar 3 dimensi. Kita juga blm dpt mengetahui seperti apa gambar 3 dimensi yg ada di bingkai tsb, karena bentuknya yg aneh, berulang polanya seperti teratur tetapi tidak. Tetapi jika kita tahu caranya bagaimana melihat gambar 3 dimensi tsb maka kita akan langsung dapat melihatnya dgn jelas, pandangan kita menjadi tercerap ke dalam pemandangan 3 dimensi tsb (ada yg menggunakan cara menatap 1 titik secara intens hingga mata “menangkap” gambar 3 dimensi tsb, ada yg seperti menjulingkan matanya menatap gambar tsb dan akhirnya terlihat dgn jelas gambar 3 dimensi tsb), menurut saya menatap gambar 3 dimensi tsb dapat berbeda2 bagi setiap orang, tetapi hasil akhirnya tetap sama yaitu terlihatnya pemandangan/ gambar 3 dimensi tsb. Dikatakan seperti fokus namun tidak fokus, tetapi mata kita tetap dapat menangkap gambar 3 dimensi tsb dgn jelas. Kemudian saat kita “tercerap” dalam gambar 3 dimensi tsb, kebanyakan yg terjadi adalah mata kita tdk mempedulikan gambar lain di sekitar kita, walaupun sebenarnya bisa, tetapi saat kita mulai memperhatikan gambar lainnya selain dari gambar 3 dimensi tadi, maka gambar 3 dimensi tadi mungkin menjadi buyar dan saat ingin kembali, gambar 3 dimensi tadi mungkin blm tentu bisa dilihat seketika, terkecuali telah terlatih/terbiasa. Jika blm terbiasa, maka perlu upaya lagi utk itu.
Demikian halnya dgn obyek napas, jika saya mengatakan saya fokus pada napas saya, maka saya mungkin akan berpikir saya yg melihat napas, napas diperhatikan oleh saya. Dimana seharusnya pikiran saya tercerap dalam peredaran napas tersebut dan bukan hanya memperhatikan napas saya saja (walaupun pada awalnya kegiatan memperhatikan tetap ada). Utk itu memperhatikan napas harus dibarengi dengan menyadari dan merasakan. Kegiatan menyadari dan merasakan ini dapat membuat pikiran menjadi tercerap dalam obyek napas tadi.

d). “Saya akan bangkit dari latihan meditasi ini pada waktu yg sesuai bagi tubuh dan situasi kondisi diri saya, dan pada saat saya bangkit dari latihan meditasi ini, tubuh dan pikiran saya menjadi seimbang, selaras, sehat, segar dan bahagia”. (script ini dapat disesuaikan dgn kepentingan masing2 praktisi, saya cenderung mengatakan “…pada waktu yg sesuai bagi tubuh dan situasi kondisi diri saya…” karena saat latihan meditasi saya mungkin memiliki waktu yg saya rasa cukup panjang, jadi saya tidak membatasinya, terkecuali jika ada keterbatasan waktu, maka waktunya bisa ditentukan. Demikian juga dgn “…situasi kondisi diri saya…” ini saya maksudkan agar subconscious saya dapat memberitahu kapan saya harus selesai, karena mungkin latihan meditasi saya sudah mendekati waktu perjanjian dgn orang lain yg sudah diset sebelumnya, atau sudah waktunya utk makan dan beraktifitas dsb).

# 3 Perenungan #
15). 3 Perenungan sangat bermanfaat bagi praktisi dalam melakukan latihan meditasi, antara lain dalam menghadapi, memahami, mengakui, menerima dan melepaskan gangguan2 yg mungkin timbul dalam latihan meditasi, baik secara fisik maupun batin.
Ketiga perenungan tsb adalah :
(a) Perenungan akan adanya penderitaan, sebab penderitaan, terbebasnya penderitaan & jalan menuju lenyapnya penderitaan
(b) Perenungan akan ketidakkekalan,
(c) Perenungan akan tanpa aku.
Akan memakan waktu yg cukup panjang utk membahas hal2 tsb di atas secara mendetil, namun saya akan berupaya utk membahas 3 perenungan di atas secara sederhana pada aplikasinya langsung.
Sebagai contoh: jika dalam latihan meditasi kita merasakan adanya rasa gatal atau kesemutan atau sakit pada tubuh kita, maka hal pertama yg dapat kita lakukan adalah : jika kita dapat mengatasi rasa tersebut dan masih dapat berada pada obyek meditasi yg kita gunakan maka permasalahan selesai.
Tetapi jika tidak, dan rasa2 tsb begitu mengganggu, maka kita dapat mengidentifkasi rasa tsb, jika rasa sakit, maka identifikasikan lokasi sakitnya, dan rasa sakitnya, kemudian kita pahami, akui dan terima bahwa ini adalah rasa sakit yg terjadi pada diri kita di lokasi tsb, kita sadari bahwa rasa sakit ini adalah penderitaan–>(a).
Katakan kepada diri kita :Jika rasa sakit ini bisa datang maka berarti ia juga bisa pergi/menghilang–>(b).
Kemudian katakan lagi, saya mengatakan bahwa diri saya mengalami sakit ini, namun siapakah sesungguhnya yg merasakan sakit ini? sakit ini dirasakan oleh (sebutkan lokasi sakitnya, misalnya di kaki) kaki saya (kata saya boleh diganti dgn nama praktisi), kaki saya bukanlah saya, kaki saya adalah sesuatu yg berhubungan dengan saya, milik saya namun bukan saya. Jika kaki saya, yg merasakan sakit ini, adalah bukan saya, bagaimana saya yg tidak benar2 ada ini disebutkan mengalami sakit?–>(c). (kata2 tsb dapat disesuaikan dgn kondisi yg dirasakan).
Setelah gangguan dapat diatasi, praktisi dapat melanjutkan latihan meditasinya lagi. Namun jika setelah 3 perenungan ini dilakukan, gangguan masih blm dapat diatasi, praktisi dapat menghentikan latihan meditasinya utk sementara waktu dan melanjutkan lagi kemudian. Semakin sering seseorang melatih 3 perenungan ini, semakin cepat gangguan dapat diatasi.

Ketiga hal di atas (I.Persiapan, II.Postur dan III.Tools)digunakan dalam melakukan latihan meditasi ketenangan batin, analytical meditation dan penggabungan keduanya.

Cara Meditasi diatas diambil dari sumber Komunitas Money Magnet. Komunitas yang dibina dan dibimbing oleh Adi W. Gunawan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: